Keprofesionalitasan kitapun diuji. Saat kita cuma nyiapin 3 lagu, saat itu juga kita harus nambah 1 lagu lagi. Kita gak bisa berbuat apa-apa. Ini tantangan. Kita gak boleh mundur. Sedikitpun.
Setelah nimbang-nimbang lagi, akhirnya lagu When You Believelah yang dipilih. Mampus. Kita belum latihan sama sekali. Tapi dihajar sajalah. Toh baru kemaren ini kita mainin lagu itu. Dengan pede, terutama Nada dan Tinceu sebagai solis, kitapun maju. Menghadap penonton. Menjawab tantangan.
Hasilnya, not bad. Yang penting penonton terhibur. Tapi jangan salah, kita bukan pria dan wanita penghibur. Kita KPA 3.
Apa sudah selesai? Belum, karena show sesungguhnya baru akan dimulai. Rampak kendang. Rayuan Pulau Kelapa plus choir, serta lagu kojo kebanggan, Santorini. Kita mempersiapkannya cuma 2 hari, gitu? Tapi itu gak penting. Kita siap beraksi di atas panggung.
Rencananya kita akan tampil lagi setelah semua bacotan itu selesai.
Dan oh, tibalah juga saat itu.
Berhubung saya menari tarian Kalimantan, saya harus standby terpisah dari teman-teman. Untung ada Nada, dia menari tari Jali-Jali, dia juga harus standby dekat saya, jauh dari teman-teman.
Anehnya, saya sama sekali gak gugup. Malah cenderung santai. Oke penonton, bersiaplah untuk tercengang.
Saat Ciu berteriak tanda bahwa saya harus memasuki panggung, saat itu waktu serasa berjalan sangat cepat. Tau-tau tibalah kita akan memainkan lagu flow tinggi, Santorini. Penutup yang ideal. Lagu mahadaya bombastis.
Asal kamu tahu saja, Santorini harus dimainkan dengan sangat keras. Biar megah. Walaupun ada juga yang dimainkan lembut.
Saya jadi inget perkataan ketua KPA 29 kami, Ciu: Pokoknya pas nanti main Santorini, puasin weh. Lepaskan semuanya. Hajar Gabret. Ini permainan terakhir kita.
Ohya.
Ini adalah permainan terakhir kita. Pertunjukan terakhir dari KPA angkatan 29. Akan ditutup dengan, Insya Allah, dengan sempurna oleh lagu Santorini.
Kami menatap muka kondakter kami, Maryam si wanita jelek. Dia tersenyum. Kami menahan nafas. Lalu mulailah centokan yang khas itu.
~Do Mi Re Fa Mi Re Mi.. Do Mi Re Fa Mi Sol~
Semuanya mengalir saja.
Sampailah pada bagian coda. Bagian paling keras. Kami memainkannya seharot mungkin. Sepuas mungkin. Lebih keras lebih mantap.
Tau-tau sudah selesai. Maryam memberi tanda penutup, bahwa lagu telah selesai. Semua terasa seperti mimpi. Latihan di aula yang menjadi rutinitas kami selama ini, terbayar lunas. Saya gak bisa melihat apa-apa lagi. Di sekeliling kami tampak bercahaya.
Maryam tampak blur. Karena di belakangnya, justru terlihat jelas ribuan tangan bertepuk tangan, meriah sekali. Semuanya kecil seperti semut. Mata saya sendiri kelilipan, perih oleh keringat saya sendiri.
Selesai.
Kami menuruni panggung. Alhamdulilah.
**********************
Sekarang di bis. Di luar udah gelap. Kita dalam perjalanan pulang menuju Bandung.
Di tengah perjalanan, tau-tau ada yang ngomong, “eh nyanyiin lagu-lagu KOA VI yuk!”
Saya yang duduk di paling belakang, tertegun. Niat saya yang tadinya pengen tidur langsung berubah.
Teman-teman lalu nyanyi satu demi satu lagu dalam paket KOA VI.
Mulai dari Suitenya Gerswin (hehe saya lupa judulnya apa) pokoknya theme songnya Sarimie. Terus lanjut ke Broken Heart Club, This Is How A Heart Breaks, Time Is Running Out. Lagu-lagu dari masa lalu.
Teman-teman saya nyanyi niatnya pengen main sepet-sepetan gitu ceritanya.
Saya di barisan belakang, yang lagi soksok mellow melankolis, ngeliatnya seperti timeline.
Ya, sebuah mesin waktu.
KPA 29 ngemulai semuanya dari KOA VI. Kita belajar semuanya mulai dari nol. Kita yang belum terbiasa mencentok. Kita yang masih hare-hare ngapalin lagu panjang. Kita yang saat itu masih belum kebayang gimana rasanya bermain di atas panggung di depan ribuan penonton, uh bayanginnya aja mungkin waktu itu merinding. Kalo saya itu mah, gak tau yang lain haha.
Dan alhamdulilah, KOA VI terlewati.
Lanjut, kita nyanyiin lagu festival, yang judulnya … (duh lupa euy, silakan isi sendiri hehe). Saya waktu itu gak ikut festival itu, jadi gak ikut nyanyi. Tapi lagunya familiar banget di kepala, da saya dulu sering dengerin temen saya latihan.
Itu pertama kali DT2 dan DT3 bercampur. KPA 29 mulai kebentuk.
Di bis petang itu, selanjutnya, kita nyanyi lagu Badai Pasti Berlalu. Langsung di benak saya menyeruak udara suasana Konser Mini. Saat kita pertama kali dapet amanah yang besar buat bikin event sendiri, dengan dibantu akang teteh alumni. Saat setengah KPA 3 lagi sedang menunaikan kewajiban di Eropa sana.
Akhirnya kegiatan nyanyi-menyanyi ini selesai pas Kang Jeje turun dari bis. Toh udah nyampe Bandung ini, jadi kita kudu siap-siap.
Perjalanan ini selesai.
Job terakhir dari Taman Mini ini menjadi bab terakhir dari perjalanan panjang KPA 30, walopun di job terakhir ini, teman kita Dodong, Zul, Arina Yuthi, Ichang, Fahla, Saski, Adit, dan Eja, gak bisa ikut. Big thanks and big hug buat semua alumni serta adik kelas yang ikut ngebantu, yang gak bisa disebutin satu-satu. Kalo gak kesebut bisi protes hehe.
Kita sudah sampai di ujung jalan. Di sebuah persimpangan. Yang pasti setelah ini masing-masing dari kita akan memilih jalannya sendiri.
Bukan uang sebenarnya yang jadi oleh-oleh utama.
Lagu Aku Takut, lalalala laaa lalala, Geng In The Past Geng Kamar dll, adeuh adeuhan itu, rasanya memakai kostum daerah, berkeringat bersama, salat bareng di tengah cendol, foto-foto di Skylift, video. Semua kealayan itu. Semua becandaan itu yang cuma anak KPA aja yang ngerti.
Bab kita sudah hampir mencapai akhirnya. Hampir.
Setelah itu akan ada Latsus Alam. Lalu kepengurusan 3 bulan yang mulai blur, dan akhirnya Sertijab, di saat semuanya sudah mencapai akhirnya.
Akhir yang merupakan awal yang baru tentunya.
Saya sendiri gak tau apa yang bakal terjadi abis ini.
Buat Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung, terima kasih buat perjalanan 2 tahun ini yang sangaat perfecto! Walopun di tengah-tengah ada pasang surut. Tapi kita menutupnya dengan bombastis!
Thank you.
Keep in touch, pals.