Takut.

“Disinggung mengenai pemicu tindak terorisme terbaru, menurut Nasir, dimungkinkan Noordin dan kawan-kawan bermaksud merespons kebijakan terbaru Amerika Serikat. AS di bawah kepemimpinan Barrack Obama hendak menarik pasukan dari Irak, tetapi di satu sisi menambah pasukan di Afganistan. Bahkan, AS bermaksud menghabisi Taliban.”

Itu sepenggal paragraf berita yang saya baca tadi di Koran Kompas edisi 26 Juli 2009.

Membaca paragraf itu membuat saya berpikir, dan akhirnya menghasilkan hipotesa di kepala saya.

Jadi selama ini, kaum teroris yang membuat keributan di Indonesia, salah satu tujuannya adalah mendukung saudara mereka yang ada di Taliban?

Lalu mereka meledakkan bom di tempat dimana banyak warga WNA berkumpul.

Apa seperti itu? 

Hmm itu cuman dugaan saya selintas setelah baca berita itu.

Jadi, inti masalah terorisme Indonesia selama ini ada di Amerika Serikat?

Jadi, selama perang di Afganistan belum selesai, Indonesia tidak akan pernah aman?

Ditambah dengan situasi politik internal Indonesia yang tentu masih bermasalah.

Ditambah dengan keresahan virus A-H1N1 yang sedang menyebar.

Saya, merasa takut.

Saya merasa kalau suatu hari nanti satu bom akan meledak juga, dimanapun itu. Tidak menutup kemungkinan orang-orang yang saya sayangi akan ikut menjadi korban.

Tidak, naudzubillahi min dzalik. Semoga itu tidak terjadi.

Ya Allah lindungilah kami para umat-Mu ya Allah.

Semoga masa depan yang akan saya masuki sebentar lagi, tidak mendung.

Posted Sunday, July 26th, at 5:00 AM (∞).

Tumblarity: 0

Hmm itulah resiko dari idealisme yang terlalu tinggi.

Saya menciptakan tumblr ini untuk menampung sisi melankolis saya. Nyatanya, akhir-akhir ini melankolis saya tidak seperti dulu lagi.

Apa melankolis saya selalu timbul saat masalah datang saja?

Atau membuat 2 blog sekaligus adalah sesuatu yang tidak efektif?

Jujur, saya berusaha keras mendesain tumblr ini sedemikian rupa di segala aspek. Dan sekarang, tumblr ini terlihat usang di mata saya.

Jika saya pengen membuat tumblr ini hidup, berarti harus ada masalah dulu dong?

Oh, tidak, makasih. Saya lagi di fase kesenangan hidup sekarang.

Maaf Nurarief, kali ini anda tidak saya urus untuk sementara.

Nanti saya akan kembali lagi jika ada masalah yang membutuhkan sepasang telinga untuk mendengarkan.

Posted Friday, July 24th, at 1:10 PM (∞).

Ringkasan buat Semuanya

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar’na waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua

Reff:
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti…

Ke: Reff

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Posted Saturday, July 18th, at 10:58 PM (∞).

Last Chapter

Keprofesionalitasan kitapun diuji. Saat kita cuma nyiapin 3 lagu, saat itu juga kita harus nambah 1 lagu lagi. Kita gak bisa berbuat apa-apa. Ini tantangan. Kita gak boleh mundur. Sedikitpun.

Setelah nimbang-nimbang lagi, akhirnya lagu When You Believelah yang dipilih. Mampus. Kita belum latihan sama sekali. Tapi dihajar sajalah. Toh baru kemaren ini kita mainin lagu itu. Dengan pede, terutama Nada dan Tinceu sebagai solis, kitapun maju. Menghadap penonton. Menjawab tantangan.

Hasilnya, not bad. Yang penting penonton terhibur. Tapi jangan salah, kita bukan pria dan wanita penghibur. Kita KPA 3.

Apa sudah selesai? Belum, karena show sesungguhnya baru akan dimulai. Rampak kendang. Rayuan Pulau Kelapa plus choir, serta lagu kojo kebanggan, Santorini. Kita mempersiapkannya cuma 2 hari, gitu? Tapi itu gak penting. Kita siap beraksi di atas panggung.

Rencananya kita akan tampil lagi setelah semua bacotan itu selesai.

Dan oh, tibalah juga saat itu.

Berhubung saya menari tarian Kalimantan, saya harus standby terpisah dari teman-teman. Untung ada Nada, dia menari tari Jali-Jali, dia juga harus standby dekat saya, jauh dari teman-teman.

Anehnya, saya sama sekali gak gugup. Malah cenderung santai. Oke penonton, bersiaplah untuk tercengang.

Saat Ciu berteriak tanda bahwa saya harus memasuki panggung, saat itu waktu serasa berjalan sangat cepat. Tau-tau tibalah kita akan memainkan lagu flow tinggi, Santorini. Penutup yang ideal. Lagu mahadaya bombastis.

Asal kamu tahu saja, Santorini harus dimainkan dengan sangat keras. Biar megah. Walaupun ada juga yang dimainkan lembut.

Saya jadi inget perkataan ketua KPA 29 kami, Ciu: Pokoknya pas nanti main Santorini, puasin weh. Lepaskan semuanya. Hajar Gabret. Ini permainan terakhir kita.

Ohya.

Ini adalah permainan terakhir kita. Pertunjukan terakhir dari KPA angkatan 29. Akan ditutup dengan, Insya Allah, dengan sempurna oleh lagu Santorini.

Kami menatap muka kondakter kami, Maryam si wanita jelek. Dia tersenyum. Kami menahan nafas. Lalu mulailah centokan yang khas itu.

~Do Mi Re Fa Mi Re Mi.. Do Mi Re Fa Mi Sol~

Semuanya mengalir saja.

Sampailah pada bagian coda. Bagian paling keras. Kami memainkannya seharot mungkin. Sepuas mungkin. Lebih keras lebih mantap. 

Tau-tau sudah selesai. Maryam memberi tanda penutup, bahwa lagu telah selesai. Semua terasa seperti mimpi. Latihan di aula yang menjadi rutinitas kami selama ini, terbayar lunas. Saya gak bisa melihat apa-apa lagi. Di sekeliling kami tampak bercahaya.

Maryam tampak blur. Karena di belakangnya, justru terlihat jelas ribuan tangan bertepuk tangan, meriah sekali. Semuanya kecil seperti semut. Mata saya sendiri kelilipan, perih oleh keringat saya sendiri.

Selesai.

Kami menuruni panggung. Alhamdulilah.

**********************

Sekarang di bis. Di luar udah gelap. Kita dalam perjalanan pulang menuju Bandung.

Di tengah perjalanan, tau-tau ada yang ngomong, “eh nyanyiin lagu-lagu KOA VI yuk!”

Saya yang duduk di paling belakang, tertegun. Niat saya yang tadinya pengen tidur langsung berubah.

Teman-teman lalu nyanyi satu demi satu lagu dalam paket KOA VI.

Mulai dari Suitenya Gerswin (hehe saya lupa judulnya apa) pokoknya theme songnya Sarimie. Terus lanjut ke Broken Heart Club, This Is How A Heart Breaks, Time Is Running Out. Lagu-lagu dari masa lalu.

Teman-teman saya nyanyi niatnya pengen main sepet-sepetan gitu ceritanya.

Saya di barisan belakang, yang lagi soksok mellow melankolis, ngeliatnya seperti timeline.

Ya, sebuah mesin waktu.

KPA 29 ngemulai semuanya dari KOA VI. Kita belajar semuanya mulai dari nol. Kita yang belum terbiasa mencentok. Kita yang masih hare-hare ngapalin lagu panjang. Kita yang saat itu masih belum kebayang gimana rasanya bermain di atas panggung di depan ribuan penonton, uh bayanginnya aja mungkin waktu itu merinding. Kalo saya itu mah, gak tau yang lain haha.

Dan alhamdulilah, KOA VI terlewati.

Lanjut, kita nyanyiin lagu festival, yang judulnya … (duh lupa euy, silakan isi sendiri hehe). Saya waktu itu gak ikut festival itu, jadi gak ikut nyanyi. Tapi lagunya familiar banget di kepala, da saya dulu sering dengerin temen saya latihan.

Itu pertama kali DT2 dan DT3 bercampur. KPA 29 mulai kebentuk.

Di bis petang itu, selanjutnya, kita nyanyi lagu Badai Pasti Berlalu. Langsung di benak saya menyeruak udara suasana Konser Mini. Saat kita pertama kali dapet amanah yang besar buat bikin event sendiri, dengan dibantu akang teteh alumni. Saat setengah KPA 3 lagi sedang menunaikan kewajiban di Eropa sana.

Akhirnya kegiatan nyanyi-menyanyi ini selesai pas Kang Jeje turun dari bis. Toh udah nyampe Bandung ini, jadi kita kudu siap-siap.

Perjalanan ini selesai.

Job terakhir dari Taman Mini ini menjadi bab terakhir dari perjalanan panjang KPA 30, walopun di job terakhir ini, teman kita Dodong, Zul, Arina Yuthi, Ichang, Fahla, Saski, Adit, dan Eja, gak bisa ikut. Big thanks and big hug buat semua alumni serta adik kelas yang ikut ngebantu, yang gak bisa disebutin satu-satu. Kalo gak kesebut bisi protes hehe.

Kita sudah sampai di ujung jalan. Di sebuah persimpangan. Yang pasti setelah ini masing-masing dari kita akan memilih jalannya sendiri.

Bukan uang sebenarnya yang jadi oleh-oleh utama.

Lagu Aku Takut, lalalala laaa lalala, Geng In The Past Geng Kamar dll, adeuh adeuhan itu, rasanya memakai kostum daerah, berkeringat bersama, salat bareng di tengah cendol, foto-foto di Skylift, video. Semua kealayan itu. Semua becandaan itu yang cuma anak KPA aja yang ngerti.

Bab kita sudah hampir mencapai akhirnya. Hampir.

Setelah itu akan ada Latsus Alam. Lalu kepengurusan 3 bulan yang mulai blur, dan akhirnya Sertijab, di saat semuanya sudah mencapai akhirnya.

Akhir yang merupakan awal yang baru tentunya.

Saya sendiri gak tau apa yang bakal terjadi abis ini.

Buat Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung, terima kasih buat perjalanan 2 tahun ini yang sangaat perfecto! Walopun di tengah-tengah ada pasang surut. Tapi kita menutupnya dengan bombastis!

Thank you.

Keep in touch, pals.

Posted Thursday, July 2nd, at 1:56 PM (∞).

Saya Ngerasa Jahat Udah Menulis Post Sebelumnya

Ternyata bukan saya yang nggak naik kelas. Tapi teman saya.

Dari 5 orang tak beruntung di angkatan saya, ada dia. Dia teman saya.

Dia, teman saya, yang berprinsip gak akan menyontek apapun yang terjadi. Di saat yang lain nerima jarkom ato contekan ato apapun, dia tetep pada prinsipnya. Dia salah satu orang jujur kuat yang pernah saya kenal. Dia, teman saya, dia yang malah diberi cobaan buat gak naik tahun ini.

Orang jujur kali ini kalah.

Saya pernah mendengar pepatah, Allah gak akan ngasih cobaan kepada hamba-Nya di luar kemampuan hamba itu. 

Cobaan gak naik kelas, menurut saya itu sungguh berat. Beraaaat kawan. Saya mungkin bisa hancur, seperti yang saya tulis di post sebelumnya.

Tapi dia masih bisa tersenyum. Masih bisa ngebodor. Dia juga gak kabur. Dia tetap di almameternya. 

Dia, salah satu orang jujur kuat yang pernah saya kenal.

Dia terjebak dalam ketidakadilan sistem yang dimainkan orang-orang biadab. Mungkin saya salah satu orang biadab itu. 

Apa yang bisa saya lakukan? Toh yang membuat sistem itu saja tak bisa berbuat apa-apa. Katanya, dia tak bisa mengencingi sistem yang dia buat sebelumnya dengan merubah suatu keputusan yang sudah dia sepakati. Katanya, ini sudah merupakan keputusan final yang dibuat semua pihak guru.

Arti jahatnya, gak ada guru yang membela teman saya.

Wajar. Karena mereka tak tahu apa-apa. Mereka tak tahu situasi sebenarnya.

Yang membuat sistem itu menimpali, ya udah kenapa gak dari dulu aja kalian katakan fakta sebenarnya? Guru dan murid harusnya ngebentuk simbiosis mutualisme yang bisa menegakkan keadilan. Jangan kasih tahu saya sekarang, sekarang sudah terlambat.

Tapi teman saya itu orang jujur pak! Dia hanya korban! Wali kelasnya saja yang gak becus, gak ngehubungin dia!

Yang membuat sistem itu berkata, harusnya ada sikap proaktif juga dari siswa. Dia harusnya inisiatif dong nanya ke gurunya, gimana nilainya.

Sekolah sudah memberikan kelowongan dan kebebasan untuk kalian mengejar nilai! 2 semester! Ada UTS pula! Kalau nilai semester 1nya jelek, harusnya ada usaha dong dari anak itu buat memperbaiki nilainya.

Ohya, soal wali kelasnya itu, saya akan selidiki lagi. Kalaupun bersalah saya cuma bisa memberi sanksi kepada guru itu. Selebihnya, seperti yang sudah saya katakan, saya gak bisa merubah keputusan yang sudah saya buat. Kalau itu saya lakukan sama saja saya melanggar peraturan saya sendiri.

Pak, dia itu wakoor Seksie 2. Seksi di bidang pendidikan. Dia sudah bekerja untuk sekolah. Dia jujur. Tak bisakah jabatannya dan kelakuannya dijadikan pertimbangan lagi pak?

Jangan mengkambinghitamkan organisasi kalian. Kalau nilainya jelek, dia harusnya gak dikasih amanah lebih. Kasihan dia. Murid itu harusnya ngeprioritasin akademisnya, bukan organisasi atau ekskulnya!

Begitu seterusnya.

Buat yang ngerasa bingung, yang di atas adalah dialog antara kami dan mereka. Antara murid dan pihak atas. Kami memperjuangkan dia.

Kami gak akan membiarkan orang jujur kalah.

Tapi kami belum berhasil.

Dialog melelahkan itu berlangsung sampai magrib. Dia teman saya, hanya bisa menunduk. Kami sudah berurai air mata. Kami layaknya gerombolan aktivis saja, tapi kali ini kami menangis.

Yaah si pembuat aturan itu tentu gak bisa apa-apa menghadapi tangisan kami. Kami juga gak bisa apa-apa. Sistem ya sistem, nasi sudah menjadi bubur.

Kami ditaklukkan oleh sistem.

Mungkin kasus teman saya yang jujur akan dijadikan bahan pembelajaran untuk kita semua. Untuk mereka. 

Tapi ini bukan sekedar jadi bahan pembelajaran, ya wayahna salah sendiri dia kok gak ngejar nilai, atau semacamnya. Stop memakai logika dulu.

Dia teman kami.

Dia harus kita perjuangkan sampai titik terakhir.

Itu satu-satunya pegangan kami.

Mungkin sampai saya nulis post ini, nasib 5 teman saya tetep begitu adanya. Ini pasti jalan terbaik yang Allah berikan untuk mereka. Tapi apa daya, saya cuma bisa ngomong. Saya gak akan mengerti apa yang mereka rasakan, karena saya gak ada di posisi mereka.

Jadi, buat kalian juga, hati-hati kalo ngomong.

Saya sendiri juga statusnya belum aman. Remedial Test menanti. Kalau sampai gak lulus, mati aja.

Mari semua kita berdoa untuk yang terbaik.

Posted Sunday, June 28th, at 12:57 PM (∞).

Jika Saya Tidak Naik Kelas

Pertama, saya akan shock. Mungkin menangis. Bapak yang berada di samping saya akan tertegun dan speechless. Di benaknya beliau berpikir bagaimana memberitahu kabar buruk ini kepada ibu saya.

Lalu bapak saya pergi meeting ke kantor. Saya bakal cemberut sepanjang hari. Mungkin gak akan kuat bertemu dengan teman-teman. Mungkin juga bakal saya lewatkan semua rapat atau pertemuan pada hari itu.

Saya akan sibuk mencari tempat untuk menaruh muka saya.

Begitu sampai rumah, saya bakal dimarahi oleh ibu. Itu sudah pasti. Saya akan dibandingkan dengan adik pertama saya yang diterima masuk kelas SBI yang internasional itu, atau adik kedua saya yang diterima kelas akselerasi.

Hari itu akan menjadi hari terkelam.

Setelah semua tetes air mata, teriakan, dan suasana pilu nan sendu itu, setelah kita capek bersedih, kita mungkin lantas berpikir ke depannya bakal gimana.

Apakah saya pindah ke sekolah lain? Dengan sangat terpaksa mungkin meninggalkan almameter SMAN 3.

Atau tetap survive bertahan, dengan resiko rasa malu yang luar biasa.

Hal itu gak bakal gampang saya lalui. Butuh waktu lama.

Butuh waktu lama.

***********************************

Abis selesai mengetik post ini, saya lalu berpikir. Kenapa saya harus berpikir yang tidak-tidak? Kenapa saya langsung memikirkan situasi terburuk?

Gak salah memang. Prepared for the worst, like they said.

Mungkin gak akan membantu saya menaikkan kekuatan, kekuatan untuk menerima kemungkinan terburuk. Saya gak bisa berpura-pura menjadi manusia besi, kaleng pun gak bisa. Tetep aja saya bakal terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. 

Ayo, terima apapun kemungkinannya, pasrah, dan yakinkan kalau itu yang terbaik yang Allah berikan.

Hah! Ngomong aja gampang! Kamu gak akan bisa mengerti. Kamu lagi gak berada di posisi saya. Gak ada yang mau gak naik kelas.

Tapi, di sini sebenarnya ujian Allah. Ujian atas semua pelajaran yang saya terima selama ini. Ujian atas teori-teori itu. Ujian dari semua quotes.

Jika ternyata saya gak naik kelas. Kuatkah saya? Pasrahkah saya? Bisakah saya mengingat teori kalau itu semua yang terbaik? Bisakah saya mengesampingkan rasa sedih, dan maju untuk masa depan? 

Memang gak mudah. Siapa bilang gampang. 

Jadi apa yang harus saya persiapkan? Mental yang kuat? Keyakinan? Hmm tapi saya sepertinya tahu apa yang benar-benar saya perlukan untuk nanti.

Saya butuh tongkat untuk ditopang, mungkin.

Sekali lagi, kamu gak akan bisa mengerti, kamu gak ada di posisi saya.

Tapi saya butuh kamu.

Jika saya tidak naik kelas. Saya akan hancur, saya jamin itu. Tapi sekali lagi, saya butuh kamu. Saya butuh kamu supaya bisa lulus dari ujian ini.

Nanti, kalau memang hari itu tiba,

tolong ingatkan saya tentang quotes serta teori-teori itu.

Posted Thursday, June 25th, at 12:14 PM (∞).

Pendahuluan.

Alih-alih membuat account baru di Plurk atau Twitter, saya lebih senang membuat tumblelog baru di Tumblr ini, namun dengan karakteristik yang berbeda. Kalau untuk mengetahui status teman, bukannya di Facebook udah ada?

Haha memang, saya lebih suka simple-isasi.

Membaca Nurarief mungkin bakal terkesan kaku. Gloomy. Old-skool? Apalagi yang ada di benak kalian?

Kalian? 

Siapa kalian?

Kamu?

Kucing?

Makhluk luar angkasa?

Sakit jiwa dasar.

Terbiasalah.

Posted Thursday, June 25th, at 4:51 AM (∞).

Powered by Tumblr; themed by Adam Lloyd.